Cara Mengatasi Ketergantungan Teknologi pada Generasi Alpha: Solusi untuk Tumbuh Sehat

Dilansir dari survey yang dilakukan KPAI di era pandemi, kebanyakan anak diizinkan menggunakan gadget selain untuk belajar 79% dan anak memiliki gadget sendiri 71,3% dan mayoritas anak tidak memiliki aturan (79%) penggunaan gadget dengan orang tua. Bisa dibilang ini salah satu pencetus gen Alpha akhirnya kecanduan gadget ya moms?!

Apa sih dampak negatifnya bagi anak-anak? Selain kecanduan gadget, gen Alpha juga bisa mengalami gangguan tidur, kurangnya interaksi sosial, menurunnya prestasi akademik, bahkan sampai turunnya kesehatan fisik anak sebagai akibat dari kurangnya kegiatan fisik anak. 

Nggak main-main akibatnya ya dads, bisa jangka panjang kalau dibiarkan ya kan moms? Karena cepat atau lambat ini akan berakibat pada kehidupannya hingga dewasa dan masa depan anak-anak kita. Bagaimana solusi ketergantungan gadget dari gen Alpha? Tapi sebenarnya kenapa sih gen Alpha rentan tergantung dengan teknologi?

Gen Alpha Rentan Kecanduan Teknologi?

Benarkah? Bisa dibenarkan juga sih moms, harus diakui mereka lahir dalam era teknologi. Dunia yang serba digital, dan terlibat secara online karena generasi sebelumnya. Seperti apa sih karakternya?

Karakter Generasi Alpha:

  1. Sebagai native digital yang familiar dengan teknologi. 

  2. Terbiasa dengan kecerdasan buatan (AI) 

  3. Memiliki kepedulian terhadap lingkungan

  4. Terbuka dengan perbedaan, lebih inklusif, dan memiliki pemikiran yang mendunia.

  5. Cara belajarnya fleksibel dan inovatif.

  6. Kemandiriannya tinggi dalam mencari solusi secara digital. 


Gen Alpha lahir dan tumbuh dengan aktifitas yang terintegrasi dengan teknologi digital. Karena mereka lahir di era digital dimana segala hal dalam kehidupan telah terdigitalisasi. Sehingga lekat dengan teknologi menjadi kebutuhan. Apa saja yang menjadi penyebab ketergantungan teknologi?

Faktor-faktor Penyebab Ketergantungan Teknologi:

  1. Faktor Internal.

Di sini yang mempengaruhi yakni aspek kontrol diri yang rendah, sifat sensational seeking yang tinggi, dan self esteem yang rendah.

  1. Faktor Situasional.

Yaitu faktor yang menggambarkan tentang situasi psikologis individu, yang akan mempengaruhi adalah rasa nyaman jika memiliki gadget.

  1. Faktor Eksternal.

Ini merupakan pengaruh dari luar diri, bisa berupa iklan dari media.

  1. Faktor Sosial

Yakni faktor yang menggambarkan tentang kebutuhan interaksi sosial, sehingga menimbulkan keinginan untuk selalu melekat dengan gadget.

Gimana kita tahu kalau anak ketergantungan dengan teknologi? Cek ya, apakah anak-anak moms & dads memiliki tanda-tanda ini.

Tanda-tanda Ketergantungan Teknologi pada Anak

Kenapa moms dan dads harus tahu bagaimana tanda-tanda ketergantungan teknologi sejak anak justru sedini mungkin? Pemahaman ini membantu moms untuk mendeteksi sedini mungkin, sehingga bisa diatasi secepat mungkin sebelum ketergantungan itu semakin parah. OK, berikut ini Tanda-tanda Ketergantungan Teknologi pada Anak.

  1. Anak tak bisa berhenti main gadget.

  2. Gadget memenuhi pikiran mereka meski tidak sedang memegang gadget.

  3. Anak menggunakan gadget meski sembunyi-sembunyi.

  4. Memicu masalah keluarga karena emosi yang tak terkontrol.

  5. Menunjukkan gejala penarikan, anak menunjukkan reaksi stress atau gelisah saat gadget diambil.

  6. Mengganggu sosialisasi anak dengan lingkungan.

  7. Toleransi meningkat, kemampuan anak bermain gadget semakin panjang.

  8. Kehilangan minat untuk melakukan aktivitas yang lainnya.

  9. Gadget menjadi mood booster.


Kondisi emosional anak bagaimana jika anak sudah mulai mengalami ketergantungan dengan gadget? Umumnya anak akan mengalami perilaku yang agresif, isolasi sosial, serta gangguan tidur. 

Dampak negatif tentu ada ya dads pada ketergantungan teknologi ini pada anak, tapi apakah dampak ini akan terjadi dalam jangka panjang? Simak pemaparan berikut ini ya moms.

Bagaimana Dampak Jangka Panjang Ketergantungan Teknologi pada Tumbuh Kembang Anak?

Dampak apa saja sih moms yang akan dialami anak dalam jangka panjang jika mengalami ketergantungan pada tumbuh kembang anak? Berikut ini Dampak Jangka Panjang Ketergantungan Teknologi pada Tumbuh Kembang Anak.

  1. Dampak Fisik.

Dampak fisik yang mungkin terjadi yaitu masalah kesehatan mata, obesitas, kurang aktivitas fisik.

  1. Dampak Psikologis.

Dampak Psikologisnya antara lain gangguan konsentrasi, rendahnya kemampuan bersosialisasi, dan kecemasan.

  1. Dampak Akademik.

Dampak akademiknya yakni menurunnya prestasi belajar akibat kecanduan gadget.

Bagaimana Solusi untuk Mengatasi Ketergantungan Teknologi pada Generasi Alpha?

Apa yang bisa moms & dads lakukan untuk mengatasi ketergantungan teknologi pada generasi Alpha? Moms bisa mencoba melakukan trik berikut ini.

  1. Batasi Screen Time dengan Bijak.

Buat jadwal dan batasan waktu, dan disesuaikan dengan kebutuhan serta usia anak ya moms. Hindari menjadikan gadget sebagai pengasuh anak atau alat agar mereka tenang.

  1. Bantu Anak Melakukan Aktivitas Fisik dan Outdoor.

Bantu anak untuk tetap melakukan aktivitas fisik dan outdoor. Misalnya bersepeda, main basket, main sepatu roda, main skateboard, renang, sepak bola, atau jenis olahraga yang lain.

  1. Pilih Hobi yang Tidak Melibatkan Teknologi

Masih banyak aktivitas lain yang bisa dilakukan tanpa teknologi lho moms. Moms bisa membuat kue bersama anak, melukis, membuat kerajinan tangan, mendesain ulang kamar, menghias jurnal atau melakukan hobi yang lain.

  1. Komunikasi Terbuka dengan Anak.

Bagaimana komunikasi terbuka dengan anak? Diskusi dads. Dengarkan pendapat anak, ajak mereka memberikan saran untuk berbagai hal yang terjadi dalam keseharian anak ya moms. 

Bisa nggak sih gen Alpha dijauhkan dari gadget atau teknologi yang lain? Agak berat kayaknya ya?! Mungkin nggak sih kalau kita libatkan?

Ajak Anak Berperan dalam Mengelola Teknologi

Akan lebih sulit ya moms kalau anak diminta melakukan sesuatu yang kita perintahkan, mungkin akan ada penolakan. Sedangkan jika anak dilibatkan maka apa yang diputuskan adalah kesepakatan yang akan lebih mudah dijalankan ya dads.

  1. Ajarkan anak tentang manfaat dan bahaya teknologi.

Berikan edukasi pada anak tentang manfaat dan bahaya teknologi. Apa saja dampak negatif yang mungkin terjadi pada anak. Sehingga mereka tahu apa yang akan mereka hadapi.

  1. Pentingnya bangun literasi digital sejak dini agar anak lebih bijak dalam menggunakan teknologi.

Kenapa harus membangun literasi digital? Literasi digital adalah kemampuan untuk menggunakan teknologi digital secara bijak dan tepat. Literasi digital penting karena memiliki banyak manfaat, diantaranya dapat menghemat waktu, menghemat uang, memudahkan mendapatkan informasi.

  1. Buat kesepakatan tentang aturan penggunaan gadget bersama anak.

Ini waktunya diskusi dengan anak-anak dads, buat kesepakatan tentang aturan penggunaan gadget bersama. Sehingga bisa disesuaikan dengan kebutuhan anak. 

Perlu Nggak Peran Parent dalam Menciptakan Keseimbangan?

Buat moms & dads yang anaknya termasuk gen Alpha, challenging right? Era digital pasti beda dengan era kita ya moms? Agak dilema aja ya, di satu sisi nggak mungkin lepas dari teknologi tapi disisi lain moms juga pasti nggak pingin anak-anak mengalami dampak negatifnya. Jadi bisakah parent menciptakan keseimbangan?

Lalu dads bisa melakukan apa nih? Jadi role model. Ciptakan keseimbangan antara digital dan natural, seperti sebelum ada teknologi digital. Tentu boleh menggunakan teknologi untuk membantu memudahkan kehidupan sehari-hari kita, tapi pastikan juga tetap beraktifitas in real life dan outdoor. Jadikan sebagai rutinitas. Bisa kan moms?

Harus bisa ya moms, kita berkomitmen untuk masa depan anak-anak juga kan? Mulai kita atur batasan, komunikasikan dengan anak-anak, dorong anak-anak beraktivitas outdoor dan tetap bersosialisasi di real life. 

Bisa nggak kalau anak-anak saja yang kita atur keseimbangan aktivitasnya? Kan moms & dads harus bekerja yang berkaitan dengan digital. Nope. Parent justru yang memiliki peran terbesar untuk memastikan anak tumbuh sehat di tengah perkembangan teknologi.

Yuk kita ciptakan keseimbangan dunia digital dan real life, menyeimbangkan aktivitas online dan offline. Semangat moms & dads, yes we can!


Gimana Peran Ibu untuk Mencegah Stunting? Ini Tips dan Trik untuk Nutrisi Anak

Pernah ketemu anak-anak yang tingginya dibawah rata-rata, tapi bukan keturunan? Jangan-jangan stunting? Apa sih stunting? Stunting itu gagal tumbuh moms, karena gizi kurang. Kok bisa ya?

Bisa, tapi sebenarnya kondisi ini bisa cegah. Karena mungkin bisa dikejar ya, karena jangka waktunya masih sampai anak berusia 1000 hari setelah lahir. Tentu saja butuh peran besar dari ibu. Apa dads juga bisa berperan? Simak lebih lanjut ya.

Apasih Stunting?

Dilansir dari Laman Kemenkes, stunting diartikan sebagai kondisi gagal tumbuh baik secara fisik maupun otak. Kenapa bisa gagal tumbuh? Hal ini bisa terjadi karena gizi yang tak terpenuhi sejak janin dalam kandungan sampai 1000 hari pertama kelahirannya. Memangnya pengaruhnya apa?

Sudah tau belum, dampak dari stunting itu jangka pendek dan jangka panjang lho moms. Dampak jangka pendeknya antara lain: terganggunya pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kecerdasan, dan gangguan metabolisme pada tubuh. Lalu kalau dampak Jangka panjangnya?

Dampak stunting dalam jangka panjang antara lain: mudah sakit, munculnya penyakit diabetes, penyakit jantung dan pembuluh darah, kegemukan, kanker, stroke, disabilitas pada usia tua, dan kualitas kerja yang kurang baik sehingga membuat produktivitas menjadi rendah.

Sedahsyat itu dampaknya pada anak-anak ya dads. Bisa nggak sih dicegah? 

Mengapa Nutrisi Penting dalam Mencegah Stunting?

Adakah peran nutrisi dalam pertumbuhan fisik dan kognitif anak? Ada dong moms, karena stunting kan disebabkan kebutuhan nutrisi tak terpenuhi. Padahal nutrisi ini berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan fisik dan kognitif anak. Di usia emas anak tumbuh dan berkembang dengan cepat kan moms?

Dilansir dari penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Gizi, nutrisi mempengaruhi perkembangan fisik dan kognitif. Sedangkan otak membutuhkan 20% dari kalori tubuh, maka kebutuhan nutrisi ini pun mempengaruhi kemampuan otak bekerja. Jadi bukan hanya saat pembentukan serabut otak serta jalur saraf yang penting untuk berbagai fungsi kognitif dan motorik. Trus gimana kalau kurang?

Tentu saja perkembangan fisik tidak akan optimal, tinggi badan kurang, cenderung kurus, dan perkembangan otak juga tak akan optimal. Apa yang terjadi jika nutrisinya nggak cukup dads? Serabut otak tak optimal terbentuk, padahal pada awal kehidupannya anak-anak aktif menguatkan koneksi antar bagian otaknya. 

Kenapa anak-anak harus terus memperkuat koneksi antara bagian-bagian otak? Kalau koneksi kuat, ini memungkinkan mereka untuk memahami dan merespons lingkungan sekitar dengan lebih baik. Perlu dipahami dads, bahwa jumlah dan susunan koneksi antar neuron ini mempunyai dampak besar terhadap kinerja otak secara keseluruhan. 

Mulai dari belajar berjalan, mengenali huruf, hingga bersosialisasi. Luar biasa berpengaruhnya ternyata nutrisi untuk tumbuh kembang anak ya moms. Gimana ya caranya mencegah stunting? Nutrisi yang gimana ya yang bisa mencegah stunting?

Tips Nutrisi untuk Cegah Stunting

Gimana sih moms nutrisi bisa cegah stunting? Simak Tips berikut iniya moms.

  • Penuhi Kebutuhan Gizi Seimbang

Apa moms tau kebutuhan gizi yang seimbang untuk anak? Tunggu dulu moms, pemenuhan gizi agar terhindar dari stunting ini harus dimulai sejak ibu hamil ya moms. Baru nanti diteruskan sampai 1000 hari setelah anak lahir. Lalu apa aja sih yang dibutuhkan?

Zat gizi makro yang harus dipenuhi diantaranya karbohidrat, protein, lemak sehat, selain itu juga zat gizi mikro yang juga harus dipenuhi yaitu vitamin dan mineral. Gimana distribusinya? Untuk usia 1-3 tahun dibutuhkan 45%-65% karbohidrat, 30%-40% lemak, dan 5%-20% protein.

  • Promosi Makanan Sehat

Promosi? Benar moms, kita harus memperkenalkan berbagai makanan sehat pada anak. Kenalkan berbagai warna sayur dan buah, biarkan anak merasakan macam-macam sumber karbohidrat. Dan juga beragam sumber protein, karena tak hanya hewani tapi juga nabati kan dads?! Karena semua memiliki peran dan manfaatnya masing-masing kan ya moms.

Karbohidrat tak hanya nasi moms, boleh juga sagu atau ubi. Protein juga tak hanya ayam dan daging dads, tahu dan tempe juga protein lho. Dan semuanya mempunyai fungsinya bagi tumbuh kembang anak dads. Siap moms?

  • Cek Asupan Susu dan Produk Olahan Susu

Susu bisa bikin tinggi moms? Wait, nggak cuma itu ternyata dads. Kalsium, fosfor, magnesium, dan protein yang terkandung di dalam susu dapat mendukung pertumbuhan fisik anak. 

Selain itu juga mampu mendukung kecerdasan otak anak, sebagai sumber energi, dan mendukung daya tahan tubuh anak. Jadi cek adakah susu atau produk olahan susu dalam menu anak-anak moms?

  • Daily Mealplan 

Ini yang perlu diingat ya moms, sudah adakah rencana menu harian untuk anak-anak? Kenapa harus dibuat rencana menu? Karena dari sini kita bisa melacak apakah kebutuhan gizinya sudah terpenuhi.

Kalau berdasarkan mood, bisa-bisa gizi yang dikonsumsi anak hanya itu-itu saja dan akhirnya tak terpenuhi kebutuhannya. Karena ada banyak zat gizi yang dibutuhkan anak sehingga sebaiknya anak pun mengonsumsi berbagai macam sumber gizi ya dads.

  • Snacking Sehat

Memangnya ada snack yang sehat? Ada dong moms, snack kan nggak hanya yang dikemas dan diproduksi pabrik ya. Apa aja sih snack sehatyang bisa kita sajikan untuk anak-anak di rumah moms?

Bisa diolah dari buah dan sayur lho moms. Misalkan cake pisang, atau puding dari chia seed dengan topping buah. Bisa juga buah potong disajikan dengan potongan lidah buaya yang telah diolah, atau potongan buah yang disajikan dengan sauce dari jus buah. Lagi happening nih moms, cocok buat cuaca yang panas ya dads.

Trik Praktis untuk Moms Kelola Nutrisi Anak

Gampang-gampang susah nggak sih moms, menyiapkan menu anak-anak? Yes! Jangan bingung dulu ya moms, ini triknya.

  • Libatkan Memilih Menunya

Suka capek ya moms, udah masak capek-capek eh anaknya nggak mau makan. Biar nggak nolak pas udah disiapkan, ajak anak-anak milih menunya. Tapi harus ingat aturan menu seimbang buat anak ya moms. Seru kan dads?

  • Bangun Suasana Makan yang Happy

Jangan sampai anak ngerasa waktu makan jadi menakutkan ya moms. PR juga nih buat dads, butuh kerjasama dengan moms soalnya dads. No more marah-marah, make this a happy moment ya dads. 

  • Suplemen Gizi?

Udah makan banyak tapi nggak gemuk? Atau justru susah makannya? Di sini moms dan dads perlu konsultasi ke dokter spesialis ya, untuk memastikan anak butuh suplemen nggak sih? Butuh berapa banyak dan berapa lama konsumsi suplemennya? Setuju dads?!

  • Belajar Terus!

Banyak hal yang perlu dipelajari masalah asupan makanan anak ya moms. Karena ada moment anak tumbuh gigi, bosan dengan makanannya, atau kelelahan yang bisa mempengaruhi nafsu makan anak lho. Inilah alasan moms dan dads harus terus belajar ya, karena anak terus tumbuh dan berkembang ya. Selalu ada alasan buat terus belajar ya?

Hadapi Tantangan Pemberian Nutrisi

Banyak banget kan masalah yang mungkin timbul saat kita memepersiapkan nutrisi untuk anak? BUat moms dan dads yang sudah dewasa pun butuh usaha lebih untuk konsisten mengonsumsi makanan sehat kan?! Apalagi anak-anak ya moms. 

Anak-anak kan masih mudah berubah perasaannya, masih suka memilih makanan yang ingin dikonsumsinya. Terutama ini moms, si picky eater yang luar biasa bikin moms bingung. Jadi moms harus gimana mengatasinya? 

Make this as a happy moment ya moms, jadi jangan dipaksa. Buat bervariasi, dan kenalkan makanan baru dengan perlahan serta berikan contoh. Gak mudah pasti beradaptasi dengan hal baru buat anak-anak ya dads, jadi yuk bersamai mereka. Tapi gimana kalau budget terbatas?

Kembali pada dasar kebutuhan zat gizi apa yang harus kita penuhi ya moms. MIsalkan anak bosan makan nasi, nggak harus diganti dengan mie shirataki kan moms? Kalau budgetnya nggak cukup bisa diganti dengan bihun jagung. Banyak bahan pengganti yang bisa kita pilih kok dads buat perkembangan anak-anak.

Luar biasa kan peran ibu untuk memenuhi nutrisi anak? Nggak hanya mempersiapkan, tapi juga mengatur budget ya dads. Bahan apa yang perlu dipilih, kapan sebaiknya diberikan, atau sebaiknya seperti apa sebaiknya makanan dikemas dan disajikan buat anak. 

It’s OK moms, jangan tegang dulu ya. Bisa dipelajari pelan-pelan bersama dads, as a team. Butuh kerja sama tim kak, karena bukan perjalanan satu hari saja. Ini bisa jadi perjalanan panjang, jadi yuk terus bekali diri. Yuk kita terus belajar dan nggak nyerah untuk berikan nutrisi yang terbaik buat anak-anak ya moms & dads.  

Rahasia Pakaian Anak yang Nyaman untuk Segala Cuaca: Pilihan Tepat untuk Ibu Modern!

Kenapa harus mempertimbangkan jenis bahan dan model baju sih kalau mau beli anak? Benar moms, karena kenyamanan baju akan sangat mempengaruhi anak. Tidak hanya untuk beraktivitas dads, tapi juga kesehatan anak.

Baju yang terlalu ketat misalnya, bisa berakibat buruk juga untuk kesehatan anak. Atau baju yang bahannya kaku moms, ini akan membatasi ruang gerak anak. Bahan yang tak tepat dipakai pada aktivitas anak pun juga harus diperhatikan lho dads. 

Bahan yang tak bisa menyerap keringat, akan bisa menyebabkan kelembaban berlebih jika digunakan di cuaca panas. Emang ada akibatnya? Ini bisa menimbulkan jamur lho moms. Wow, bisa separah itu ya dads. Gimana pakaian yang bagusnnya buat cuaca dingin ya? Simak rahasia pakaian anak yang nyaman untuk segala cuaca berikut ini ya.

Pilihan Pakaian Anak Terbaik untuk Cuaca Panas

Cuaca panas membuat anak cenderung banyak berkeringat ya moms, sebaiknya gunakan bahan yang breathable dan mampu menyerap keringat. Bahan apa yang cocok untuk cuaca panas ya?

Bahan yang Sesuai untuk Cuaca Panas:

  • Katun.

  • Linen.

  • Bamboo.

Model Pakaian yang Disarankan:

  • Kaos lengan pendek.

  • Celana pendek.

  • Dress ringan.

Tips:

Gunakan tambahan aksesories seperti topi untuk perlindungan terhadap matahari.

Pilihan Pakaian untuk Cuaca Dingin

Dalam cuaca dingin, anak akan membutuhkan pakaian yang hangat. Tak terlalu tebal tap bisa menahan angin. Bahan seperti apa yang bisa dipakai ya?

Bahan Yang Cocok untuk Cuaca Dingin:

  • Wool.

  • Fleece.

  • Down.

Model Pakaian yang Bisa Dipakai:

Pilih model pakaian dengan model layering.

Jenis Pakaian yang Disarankan:

  • Sweater.

  • Jaket.

  • Celana panjang.

  • Sarung tangan.

  • Syal.

Tips Memilih Pakaian Anak untuk Hari Hujan

Kalau mulai hujan nggak hanya dingin ya moms, tapi juga lembab cuacanya. Karena pasti jarang muncul sinar matahari ya dads. Bahan pakaian yang seperti apa yang sebaiknya kita pilihuntuk hari hujan ya?

Bahan yang Cocok untuk Hari Hujan:

  • Nilon.

  • Poliester.

  • Gore-Tex.

Must Have Item:

  • Jas hujan.

  • Sepatu bot hujan.

  • Payung kecil.

Tips:

Pilih pakaian dan peralatan yang praktis anti air yang bisa dibersihkan dengan mudah.

Rekomendasi Pakaian Anak untuk Cuaca yang Berubah-ubah

Sering mengalami ini moms? Sebentar panas, eh sorenya hujan. Cuaca gini yang sering bikin anak-anak sakit ya moms. Pakaian seperti apa yang harus kita siapkan untuk anak-anak ya dads?

Bahan yang Cocok:

  • Katun berlapis.

  • Jersey.

Pakaian yang Disarankan:

  • Jaket tipis.

  • Kaos lengan panjang.

  • Celana dan rok berlayer.

Tips:

Siasati cuaca yang tak menentu dengan pakaian yang multi-lapis.

Tips Memilih Bahan Pakaian Anak di Segala Cuaca 

Gimana kalau kita pengen memilih baju anak yang nyaman untuk di segala suasana? Simak Tips berikut ini ya.

Tips Praktis Memilih Bahan Pakaian yang Tahan Lama dan Mudah Dirawat

  • Perhatikan Komposisi Bahan.

  1. Katun: Serat alami yang nyaman, menyerap keringat, dan tahan lama. Pilih katun dengan kualitas baik agar tidak mudah menyusut atau luntur.

  2. Polyester: Serat sintetis yang kuat, cepat kering, dan tidak mudah kusut. Cocok untuk pakaian aktif atau yang sering dicuci.

  3. Campuran Katun-Polyester: Kombinasi terbaik dari kedua dunia, menggabungkan kenyamanan katun dengan ketahanan polyester.

  4. Linen: Serat alami yang kuat, tahan lama, dan semakin lembut seiring waktu. Namun, perlu perawatan khusus agar tidak mudah kusut.

  • Cek Kualitas Jahitan.

  1. Jahitan yang rapat dan kuat menandakan kualitas pakaian yang baik.

  2. Perhatikan bagian-bagian yang sering mengalami tekanan, seperti jahitan pada lengan, bahu, dan saku.

  • Perhatikan Label Perawatan.

  1. Ikuti petunjuk perawatan pada label untuk memastikan pakaian tetap awet.

  2. Pilih pakaian yang dapat dicuci dengan mesin untuk memudahkan perawatan.

Gimana Memilih Pakaian yang Mendukung Kebebasan Gerak Anak:

Kalau nggak bebas bergerak pasti anak-anak nggak nyaman ya moms? Auto cranky deh. Pakaian yang bagaimana sih yang bisa mendukung kebebasan gerak anak? Simak Tips berikut ini ya.

Pilih Bahan yang Elastis:

  • Spandex atau bahan elastis lainnya memungkinkan anak bergerak bebas tanpa merasa terkekang.

  • Bahan yang lembut dan tidak kaku juga akan membuat anak merasa nyaman.

Hindari Pakaian yang Terlalu Ketat:

  • Pakaian yang terlalu ketat dapat menghambat pergerakan anak dan membuatnya tidak nyaman.

  • Berikan ruang yang cukup untuk anak bergerak dan bermain.

Pilih Potongan yang Sederhana:

  • Pakaian dengan potongan sederhana biasanya lebih nyaman dan fleksibel.

  • Hindari pakaian dengan banyak detail atau aksesori yang dapat mengganggu aktivitas anak.

Perhatikan Jenis Aktivitas:

  • Pilih pakaian yang sesuai dengan jenis aktivitas anak.

  • Untuk aktivitas yang banyak bergerak, pilih pakaian yang ringan, menyerap keringat, dan tidak mudah kusut.

Tips:

  1. Beli Pakaian yang Ukurannya Sesuai:

  • Pakaian yang terlalu besar atau terlalu kecil dapat mengganggu kenyamanan anak.

  • Beli pakaian dengan ukuran yang sedikit lebih besar agar anak masih bisa memakainya beberapa waktu ke depan.

  1. Perhatikan Warna dan Pola:

  • Pilih warna dan pola yang disukai anak agar ia lebih bersemangat untuk memakainya.

  • Warna cerah dan pola yang menarik dapat meningkatkan mood anak.

  1. Prioritaskan Kenyamanan:

  • Kenyamanan adalah hal yang paling penting. Pastikan anak merasa nyaman dengan pakaian yang ia kenakan.

Jadi udah paham kan moms, harus pilih pakaian yang gimana agar anak-anak nyaman di segala suasana? KIta nggak mungkin mengatur cuaca ya dads, tapi tenang kita masih bisa mengusahakan anak nyaman di segala cuaca agar mereka tetap nyaman. No cranky cranky club lah ya.

Pastikan moms pilih pakaian dengan bahan yang nyaman dan desain yang fleksibel agar tak menghalangi ruang gerak anak. Jadi bagaimanapun cuacanya, anak tetap nyaman. Yuk moms langsung cek keranjang belanja ya, bahannya sudah sesuai belum dengan kebutuhan anak?


Cara Membesarkan Generasi Alpha: Strategi Parenting yang Efektif di Era Digital

Apa moms & dads menyadari kalau anak-anak adalah gen Alpha? Apa sih gen Alpha? Jadi generasi Alpha adalah mereka yang lahir pada tahun 2010-2025. Mereka lahir di era digital yang sudah sangat masif perkembangannya.

Justru di sanalah tantangannya berada? Kenapa? Di era digital ada banyak sekali kemudahan, percepatan segala proses, luasnya akses pengetahuan sudah pasti memberi dampak pada karakter dan cara anak berpikir. 

Bukannya bagus kalau keadaannya begitu? Benar, tapi tak ada yang sempurna kan moms dalam hidup ini?! Digitalisasi juga memberi dampak negatif pada anak dads. Lalu apa bisa anak-anak dibesarkan dengan cara yang sama seperti kita dibesarkan?

Nope. Nggak sesimple copy paste ternyata dads. Karena lingkungan, zaman, dan tantangan yang harus dihadapi anak berbeda dengan kita maka butuh strategi parenting yang berbeda untuk membesarkan mereka. Strategi yang gimana? Simak pemaparan berikut ini ya moms.

Seperti Apa Karakteristik Generasi Alpha?

Adakah yang sudah merasakan kalau anak-anak generasi Alpha alias gen Alpha ini beda dengan generasi sebelumnya? Yes, mereka lahir di era dimana dunia digital berkembang sangat pesat dan itu tentu saja mempengaruhi karakter mereka. Mau tahu lebih detail apa yang menjadi ciri khas mereka? Cek yang berikut ini ya

Ciri Khas Generasi Alpha

Kenapa moms & dads harus tahu karakteristik gen Alpha? Pengetahuan ini bisa dijadikan pegangan untuk menentukan bagaimana kita mengasuh anak-anak nantinya ya moms. Yuk kita simak lebih lanjut.

  • Digital Native.

Adalah mereka yang lahir di era digital, dimana teknologi menjadi bagian dari kehidupan mereka. Seperti smartphone, internet, media sosial, dan juga AI. Mereka memiliki kemampuan penguasaan teknologi yang baik sejak dini. 

  • Ketergantungan Teknologi.

Sebagai generasi yang tumbuh dengan dikelilingi teknologi, kehidupan mereka tak bisa lepas dari teknologi dan hal ini menjadi penyebab ketergantungan pada teknologi. Berkomunikasi dengan media sosial, jadi mereka takut jika tak terkoneksi dengan teknologi.

  • Kemampuan Komunikasi yang Jauh Berkurang.

Kenapa bisa berkurang? Sedemikian dekatnya dengan teknologi membuat mereka tak terbiasa berkomunikasi langsung dengan manusia, hal ini mengakibatkan keterampilan berkomunikasi dengan manusia jadi berkurang. Komunikasi dengan AI tak akan sama jika dibanding dengan manusia kan dads?

  • Tak Pintar Berbagi.

Hal ini juga akibat dari jarangnya mereka berhubungan dengan manusia dibandingkan dengan gadget. Keterampilan sosial tak sebaik generasi sebelumnya.  

  • Mereka Tidak Mau Mengikuti Aturan.

Agak Shock ya moms? Mereka cenderung bossy, dominan dan suka mengatur. Hal ini dikarenakan mereka ingin menjadi yang tercepat, terbaik atau dikenal. 

Apakah ketergantungan anak-anak pada teknologi/gadget akan mempengaruhi perkembangan anak di era digital? Tentu saja moms. Dalam sebuah jurnal  yang diterbilkan STKIP Sebelas April disampaikan bahwa ketergantungan pada teknologi ini punya dampak berupa “kecanduan”. 

Kecanduan gadget akan meningkatkan prevalensi resiko gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas karena kecanduan gadget mempengaruhi pelepasan hormon dopamin yang berlebihan sehingga menyebabkan penurunan kematangan Pre Frontal Cortex (PFC). 

Wow, moms & dads benar-benar harus memahami dampak teknologi pada anak ya. Jangan sampai kita menyesal. BTW, apa aja sih moms dampaknya? Apa ada dampak positif teknologi buat gen Alpha?

Apa Tantangan Parenting di Era Digital?

Teknologi jadi tantangan tersendiri buat moms & dads yang memiliki anak gen Alpha, ya kan? Suka nggak suka mereka lahir begitu lekat dengan teknologi, bener moms kan? Nggak mungkin deh ya kalau harus lepas sama sekali. 

Sudah mulai terbayang berbagai efek buruknya untuk perkembangan anak? Sudah mulai overthinking moms? Tunggu dulu, ada kok moms dampak positif teknologi buat gen Alpha. Simak ya dads.

Dampak Positif Teknologi terhadap Generasi Alpha.

Tak hanya dampak negatif moms yang hadir bersama teknologi. Ada lho dampak positifnya. Berikut ini dampak positifnya:

  • Kemandirian Belajar.

Kemandirian belajar gen Alpha terhitung baik, mereka terbiasa belajar sendiri dan mencari sumber referensi langsung menggunakan internet. Hal ini didorong keinginan mereka untuk menjadi yang pertama dan terbaik.

  • Kecerdasan digital gen Alpha tak perlu diragukan. 

Karena mereka tumbuh dan sangat lekat dengan teknologi. Tak hanya bisa menggunakan, sebagian juga sudah mampu membuat software di usia yang masih muda.

  • Komunikasi Global.

Gen Alpha berkomunikasi dengan dunia global secara daring lebih mudah, playgroundnya menjadi sangat luas. Sehingga memicu perkembangan bahasa asing yang lebih baik.

  • Sangat terbuka dengan perubahan. 

Seperti cepatnya trend berubah, gen Alpha tetap mampu mengikuti setiap perubahannya. Mereka lebih adaptif terhadap perubahan di sekitar mereka.

Cukup banyak ya dads dampak positifnya? Tapi jika terpapar media sosial sejak dini, ada nggak ya pengaruh negatifnya?

Dampak Negatif Teknologi terhadap Gen Alpha.

Gen Alpha yang begitu lekat dengan media sosial bahkan dari bayi tentu akan merasakan dampak negatif dari gadget ya moms, apa saja Sih? Simak dampak negatifnya ya

  • Kebugaran Tubuh.

Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan Nusantara Global, diketahui bahwa anak yang terisolasi dengan teknologi atau terpaku dengan gadget akan  membuat mereka kurang melakukan kegiatan fisik dan pada akhirnya tugas perkembangannya akan terganggu. 

  • Kecanduan Layar.

Apa yang terjadi jika jika anak “kecanduan” berada di depan layar gadget? Sinar blue light yang dipancarkan gadget akan mempengaruhi kesehatan anak. Diantaranya kesehatan mata terganggu, kualitas tidur juga terganggu, sehingga mengurangi tingkat konsentrasi anak.

  • Cyber Bullying.

Ternyata bullying tak hanya terjadi di dunia nyata ya moms. Di sosial media juga bisa terjadi, baik yang diketik dalam komentar atau malah banyak juga yang dialamatkan langsung lewat direct message. Dads pernah memperhatikan ini?

  • Pengaruh media sosial yang lain.

Masih adakah pengaruh sosial media yang lain selain bullying? Yes. Pernah dengar istilah flexing? Atau FOMO, YOLO, dll? Memangnya ada pengaruh kepada anak? Secara mental, YES! Anak yang belum mampu memfilter apakah ini benar atau tidak akan sangat terpengaruh.

Luar biasa banyak manfaat dan dampak negatif ya moms untuk anak-anak? Disinilah peran orang tua dibutuhkan. Anak-anak yang belum bisa memilah dan menyikapi dengan bijaksana tentu akan terbawa arus yang belum tentu baik bagi mereka.

 Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai parent nih dads & moms? GImana strategi yang tepat untuk membesarkan gen Alpha moms? Yuk kita kupas satu per satu.

Strategi Parenting yang Efektif untuk Generasi Alpha

Siap atur strategi dads? Karena nggak bisa memaksakan mengasuh gen Alpha dengan cara kita dididik ya moms. Anak-anak bukan milik kita, mereka milik zamannya. Tapi banyak bahaya di luar sana, yes tapi nggak bisa dibiarkan steril dari dunia luar juga kan? 


Pada saatnya mereka harus menghadapi sendiri kan dads? Cuma bisa mempersiapkan ya moms. Ini nih yang bisa kita lakukan buat nyiapin gen Alpha moms!

  • Atur Screen Time yang Sehat 

Gen Alpha terikat dengan teknologi, tak mungkin memisahkan mereka. Jadi mari atur screen time yang sehat. Sesuaikan dengan usia dan kebutuhannya ya moms, selalu kontrol kondisi fisik anak. Upayakan agar waktunya produktif bersama teknologi.

  • Bangun Keterampilan Sosial di Dunia Nyata 

Gen Alpha bisa berkomunikasi dengan orang dari berbagai penjuru dunia kok, berarti terampil kan bersosialisasi? Benar bisa, tapi harus disadari kan kalau berkomunikasi tidak hanya berbicara dua arah. Seberapa bisa memahami adab, memahami perasaan lawan bicara, dan apakah anak mampu berempati juga hal yang perlu mereka pelajari. Jadi gimana? 

Ajak anak untuk bersosialisasi di luar layar, alias in real life. Bantu mereka bertemu teman sebaya, atau yang punya passion yang sama, atau saudara-saudaranya. Dampingi, atau ajak diskusi setelahnya untuk mengarahkan mereka. Bisa kan moms?

  • Kembangkan Literasi Digital yang Kuat

Bukannya Gen Alpha sudah terlalu familiar dengan teknologi? Kenapa masih perlu mengembangkan literasi digital? Literasi digital tidak hanya berarti anak bisa menggunakan gadget, atau bisa mengoperasikan software, tapi penting juga anak bisa mencerna berbagai informasi yang beredar di jagat digital.

Tugas parent ya membantu anak mencerna dan mampu memilah informasi di dunia digital. Bukankah tak semua informasi itu fakta? Kadang hoax kan ya moms? Tugas kita ya dads untuk mengajarkan anak berpikir kritis terhadap informasi yang ditemuinya di dunia maya. 

  • Bentuk Rutinitas Seimbang

Rutinitas? Susah ini. Setuju moms, mengajarkan anak rutinitas untuk membentuk disiplin itu gak gampang sama sekali ya. Nah gimana biar rutinitas itu terjadi keseimbangan aktivitas online dan offline ya dads? Agar semua kegiatan anak tak hanya seputar gadget, tapi juga bermain atau olahraga di real life bersama teman atau keluarga. Butuh banget ini peran moms and dads untuk mendampingi anak-anak ya. Bisa kan dads?

Ajarkan Nilai dan Etika di Dunia Digital


Bukannya dunia digital itu bebas sebebas bebasnya ya? Apa sih etika di dunia digital? Etika di dunia digital merupakan sekumpulan nilai atau prinsip yang mengatur perilaku seseorang dalam menggunakan teknologi digital dan internet. Apa pentingnya sih?

Dengan menjalankan etika ini diharapkan seseorang bisa menggunakan teknologi dan internet dengan bertanggung jawab dan bijaksana, sehingga dapat tercipta lingkungan yang aman. Segitu pentingnya? Ini alasan moms & dads harus menjaga gen Alpha agar bisa menjalankan etika di dunia digital, diantaranya:

  1. Terjaminnya privasi yang aman, sehingga terhindar dari pembobolan data pribadi.

  2. Meminimalkan dampak buruk media sosial.

  3. Agar tidak terjadi penyebaran informasi palsu.

  4. Agar terjaga kesopanan dunia digital.

Apa yang bisa kita lakukan ya moms agar anak bisa menggunakan teknologi dengan bertanggung jawab? Ini beberapa tips nya ya dads

Tips Membimbing Anak Untuk Menggunakan Teknologi secara Bertanggung Jawab:

  • Beri pemahaman pada anak tentang etika di dunia digital.

  • Beri anak contoh penerapan etika di dunia digital

  • Beri batasan waktu dalam penggunaan teknologi digital.

  • Pakai aplikasi untuk memantau aktivitas anak di dunia digital.

  • Fasilitasi kreativitas digital anak, seperti video, gambar, atau blog.

  • Beri pemahaman pada anak tentang literasi digital.

  • Berikan anak gadget yang sesuai kebutuhannya.

  • Dengarkan dan diskusi dengan anak.

  • Dorong anak untuk beraktivitas di luar layar, bersamai anak bermain atau berolahraga ya dads.

Meski telah menginjak usia remaja, anak-anak tetap perlu didampingi ya moms. Perlu diajak diskusi atau ditunjukkan seperti apa konsekuensinya. Agar kedepannya anak-akan mampu berpikir dan memutuskan jalannya sendiri dengan bijak ya dads.

Bantu Anak Mengembangkan Soft Skills di Era Digital

Salah satu bentuk dukungan dads & moms untuk memfasilitasi anak di era digital adalah membantu mereka mengembangkan softskill. Softskill apa yang bisa dikembangkan?

Kembangkan keterampilan komunikasi, empati dan pemecahan masalah. Kenapa?

Softskill ini diantaranya yang akan sangat dibutuhkan dalam era digital. Kenapa komunikasi? Bukankan gen Alpha akan terhubung dengan dunia global dengan sangat luas dan mudah? Lalu kenapa harus terampil berempati? Karena AI tak bisa menggantikan manusia berempati. Benar?

Robot tak punya emosi kan dads? Mereka bisa meniru respon kita mungkin, tapi bukan hatinya yang digantikan. Lalu dunia akan terus berubah moms, anak-anak akan menghadapi banyak permasalahan mereka sendiri. Itulah kenapa mereka mesti diajarkan bagaimana memecahkan masalah.

Menarik sekali pembahasan tentang gen Alpha ya moms? Tantangannya memang luar biasa dads, berbeda sekali dengan zaman kita dibesarkan ya? It’s OK, we can make it. Tentu tak lepas dari peran kita sebagai parent ya moms, kenapa?

Tentu Gen Alpha perlu dikenalkan pada dunia mereka, meski hanya lewat diskusi karena mereka juga senang didengarkan. Etika di era digital juga harus kita kenalkan ya dads, jangan sampai terbawa arus “trend” yang nggak sehat. Kita bisa kok moms jadi role model. 

Yuk kita berkomitmen, mulai dari kita ya dads. Bisa kok kita menyeimbangkan antara dunia online dan offline. Yuk bisa yuk moms & dads 🙂


Stop Panik! Ini 5 Tips Jitu Atasi Tantrum Anak di Rumah

Hayo ngaku siapa yang suka ikut tantrum kalau anak tantrum?

Jadi capek nggak moms kalau anak tantrum?

Apalagi kalau dalam sehari bisa berkali-kali, dah lah meledak jadinya. BIsa nggak sih diatasi tanpa meledak?

Simak sampai habis ya tipsnya.

Apa sih tantrum itu sebenarnya?

Tantrum itu kondisi dimana anak mengalami ledakan emosi sebagai bentuk kemarahan yang meledak ledak dan biasanya diikuti serangan agresif, menangis, berteriak, menghentakkan kaki dan tangan ke lantai atau tanah. 

Dilansir dari laman Kemenkes, Rudolph Dreukurs mengungkapkan jika penyebab utama terjadi tantrum adalah karena keputus asaan.

Dan akibat dari keputusasaan ini adalah anak menuntut perhatian yang tak semestinya, sayangnya orang tua menyikapinya dengan memaksa anak mematuhi apa yang mereka inginkan.

Dan jadilah lingkaran masalah yang tak terputus.

Jadi tambah lelah nggak sih moms?

BTW, selain itu apalagi moms yang biasanya memicu anak-anak jadi tantrum? Coba cek ya, yang mana yang biasanya terjadi sama anak-anak di rumah dads.

Kenapa Anak-anak Tantrum?

Simak yak, ini alasan kenapa anak tantrum!

Tantrum Adalah Tahap Perkembangan Anak

Kok bisa tantrum jadi tahap perkembangan anak?

Moms, melalui tantrum anak akan belajar mengenali emosi yang dia rasakan, dan juga seperti apa mengelola emosinya. Maka sebagai orang tua tugas kita adalah menamai emosi yang mereka rasakan, bantu anak mengelola emosinya, serta memahami batasan yang diberikan orang tuanya. Setuju dads?

Waspadai Pemicu Tantrum

Apa sih pemicu tantrum?

Ada beberapa hal yang bisa memicu ledakan emosi anak, antara lain: lapar, ngantuk, lelah, serta merasa tak nyaman. Sadari kondisi ini pada anak ya moms. Dengan memahami dan menghafal tanda-tandanya akan membantu moms & dads untuk membantu anak-anak mengelola emosinya.

Gimana Cara Mengatasinya?

Harus gimana sih parents mengatasi anak yang sedang tantrum?

Boleh nggak sih ikutan tantrum?

Jangan ya moms ya, jangan. 

  1. Calm Down Parents

Gimana mau tenang kalau anak tantrum? Benar moms, auto ikutan tantrum nggak sih kalau anak tantrum dads? Sayangnya itu kontra produktif moms. Take a deep breathe, tenangkan diri moms. Pastikan moms atau dads tenang saat menghadapi anak yang tantrum, teriakan hanya akan memperburuk keadaan! Catat ya moms. 

  1. Big Hug for Kiddos

Is a hug the answer? Yes it is, why not?! Kuncinya adalah memberikan rasa nyaman dan ketenangan ya moms, dan saat ledakan emosi terjadi maka pelukan bisa menjadi jalan pintas mendapatkan rasa nyaman dan aman sekaligus. Anak akan merasa tak sendiri, dipedulikan, dan merasa aman. 

  1. Berikan Distraksi 

Kenapa perlu distraksi? Pada usia awal pertumbuhan anak, anak-anak memiliki rentang konsentrasi yang pendek. Di sini lah kesempatan moms untuk menenangkan anak dan membantu mereka mengelola emosinya. Bisa dengan menyanyikan lagu favoritnya, dengan hal yang menarik di sekitarnya, atau sebatas pertanyaan “Eh apa itu?”. Gampangkan moms?

  1. Give Options

Pilihan? Yes dads. Masih ingat penyebab anak tantrum? Ya, frustasi. Dengan moms memberikan alternatif pilihan pada anak, maka akan mengurangi rasa frustasinya. Dia merasa memegang kendali. Terutama untuk anak usia 3-4 tahun ya dads, ini usia anak merasa dia “bisa” dan mandiri. 


Tips Mencegah Tantrum

Kalau tantrum disebut sebagai bagian dari pertumbuhan,apa harus dilalui anak atau bisa dicegah?

Sebenarnya bisa, karena secara garis besar kan penyebabnya frustasi anak. Gimana cara cegahnya? Baca ulasan berikut ini sampai habis ya, yang terakhir bikin nggak nyangka banget.

  1. Konsisten dengan Rutinitas

Kenapa harus konsisten dengan rutinitas? Seperti yang sudah dibahas sebelumnya ya dads, penyebab tantrum antara lain karena anak lelah, lapar, ngantuk dan tak terpenuhi apa yang diinginkannya. Maka dengan menjaga rutinitas makan, istirahat, dan berbagai batasan yang diterapkan orang tua secara konsisten, tantrum pada anak bisa dicegah. Bisa dipahami ya moms? Meski nggak mudah, tapi yakin lah moms & dads bisa.

  1. Ajarkan Anak Ekspresikan Emosinya

Ledakan emosi anak juga bisa terjadi karena saluran emosinya tersumbat ya moms, akibatnya anak tak bisa mengeluarkan emosinya dengan baik. Dan akhirnya meledak seperti bom waktu. Berikan kesempatan anak yuk moms  untuk mengeluarkan emosi yang dirasakan, kenalkan anak pada apa yang dirasakannya, dan beri contoh anak bagaimana cara mengeluarkan emosinya dengan aman. Jangan karena anak laki-laki jadi nggak boleh nangis ya dads. Setuju?

  1. Berikan Pujian

Kenapa malah dipuji? Anak juga membutuhkan apresiasi atas hal baik yang mereka lakukan lho dads. Seperti saat anak bisa menata emosinya tanpa tantrum. Dengan mendapat pujian, anak akan merasa dikuatkan untuk melakukan tindakan positif. Nggak gampang kan moms mengelola emosi sampai nggak tantrum? Setuju ya?

Normal nggak sih anak-anak tantrum?

Mengingat bahwa anak lahir tanpa pengetahuan dan keterampilan berbicara dan mengelola emosi, maka wajar sih dads. Gini moms, kalau kita nggak tau cara menyampaikan sesuatu pada orang lain, tapi kita berharap orang paham. Sayangnya nggak paham. Kira-kira apa yang akan terjadi?

Setuju, moms benar kalau menjawab akan muncul keputus asaan.

Makanya anak bayi suka nangis ya moms, kan belum bisa ngomong kalau lapar atau ngantuk. Menangis itu cara bayi berkomunikasi jadinya. Meskipun ada bahasa bayi sebenarnya, masalahnya nggak semua orang paham ya moms.

It’s OK, bisa diatasi kok moms yang namanya tantrum. Hanya saja moms & dads harus paham ya. Tetap tenang, hadapi dengan kasih sayang, dan jangan lupa ajarkan anak mengelola emosinya. Hanya itu?

Nggak dong ya, ada lagi hal yang tak kalah penting dads. Selalu ingat untuk memenuhi kebutuhan gizi anak ya, karena dengan badan yang sehat maka anak akan lebih nyaman berkegiatan.

Dan selalu ajak anak berolahraga ya dads, karena dengan berolahraga maka hormon oksitosin alias hormon bahagia anakan naik, auto nggak cranky anak-anak ya kan moms?

Dads & moms sudah siap jadi tim untuk menghadapi anak-anak yang tantrum? Bangun bonding ya moms, dengan pasangan dan juga anak. Agar bonding yang kuat ini bisa memberikan rasa nyaman dan aman untuk anak.

Sehingga anak juga bisa dengan leluasa belajar mengelola emosinya.

Memang perlu?

Perlu moms, pijakan tumbuh kembang anak-anak akan selalu moms & dads kan?

Be happy moms, enjoy the process. Take a deep breath. Yuk bisa yuk, dads. Mulai sekarang, kita hadapi tantrum dengan senyum ya🙂

Referensi:

https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1327/apa-itu-tantrum-pada-anak

https://www.alodokter.com/tantrum

https://www.tintahijau.com/keluarga/inilah-6-cara-mengatasi-si-kecil-yang-sedang-tantrum-di-tempat-umum/

https://www.klikdokter.com/ibu-anak/tips-parenting/cara-tepat-untuk-mengatasi-anak-tantrum

https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/612/tips-atasi-tantrum-pada-anak

https://health.kompas.com/read/24D24140000668/bagaimana-cara-mengatasi-anak-tantrum-ini-penjelasan-ahli-

https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20231102132419-33-485806/9-cara-terbaik-hadapi-